Oleh :

Yudha Kurniawan/Mahasiswa FH UBB

Alumnus Rohis Darul Ulum Sma Negeri 1 Gantung

 

            Syariat agama Islam  secara komprehensif mengatur kaidah dalam kehidupan bagi umat muslim,dalam kaidah-kaidah tersebut apabila kita selami makna dan hakikatnya,maka akan kita temui hikmah ataupun pelajaran di dalamnya yang bermanfaat bagi kehidupan umat muslim secara khusus,dan umumnya kepada seluruh manusia di muka bumi ini.Oleh sebab itu umat muslim sebagai mayoritas di Indonesia ini hendaklah memaknai dari tiap syariat Islam,agar terciptanya kehidupan yang sejuk,damai,dan indah bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,baik terhadap sesama maupun beda agama dalam negara Indonesia tercinta.

            Salah satu syariat dalam agama Islam yakni hari raya Idul Adha,pelaksaan hari raya ini pada tahun 1441H/2020M  agak sedikit berbeda dari pelaksaan Idul Adha pada tahun-tahun sebelumnya,dikarenakan masih terdapatnya potensi penyebaran virus Covid-19 diberbagai daerah di Indonesia,oleh sebab itu dalam  pelaksanaan  rangkaian  ibadah pada hari raya ini tentunya wajib mengikuti protokol resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka upaya percepatan penanganan Covid-19.

            Mempertimbangkan dengan kebijakan pemerintah yang hangat dibicarakan,yakni tentang tatanan hidup baru atau lebih dikenal dengan istilah New Normal,yang kemudian diganti  penyebutan oleh pemerintah pada  tanggal 13 juli 2020 lalu dengan  istilah adaptasi kebiasaan  baru sebagai langkah  menghadapi Covid-19 , solusi dalam  menyeimbangkan dua sektor yaitu kesehatan masyarakat,dan stabilitas ekonomi Indonesia.Dalam kebijakan terbaru ini maka tentunya pelaksanaan aktivitas masyarakat termasuk  ibadah juga mulai diperbolehkan dengan catatan untuk tetap selalu siaga terhadap potensi penyebaran Covid-19 ini,dengan berpedoman dengan protokol resmi yang telah di keluarkan pemerintah.

            Hemat penulis pada kesempatan ini akan lebih fokus membahas pemaknaan hakikat dari hari raya Idul Adha yang menurut kalender masehi tepat dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2020 ini.Dalam perenungan penulis ada 3 poin yang harus kita maknai secara mendalam terhadap pelaksanaan hari raya ibadah Idul Adha di tengah era normal baru ini,sebagai upaya memetik hikmah bagi umat muslim dalam mengambil pembelajaran yang bermanfaat di dalamnya.

            Yang pertama adalah pemaknaan secara sejarah.Sebagaimana yang umumnya umat muslim ketahui bersama,bahwa sejarah syariat Idul Adha ini diawali dari sejak zaman Nabi Ibrahim Allaihis Salam.Pada masa itu bila kita tilik kisahnya maka esensi dari hari raya ini adalah syariat yang lebih dalam yaitu syariat untuk berqurban.Syariat kurban ini jika kita lihat dalam garis waktu peradaban sangatlah tua,bahkan sejak peradaban pertama di muka bumi,dimana hal itu dapat kita jumpai pada kisah anaknya Nabi Adam Alaihis Salam yaitu Habil & Qabil.Hal yang dapat kita maknai pada kisah periodeisasi sejarah peradaban yakni bahwa syariat berkurban telah sejak lama dilakukan  dan menjadi fitrah sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Sang Pencipta.

            Kedua,yakni memaknai esensi dari syariat qurban itu sendiri,baik dalam kisah Habil & Qobil maupun dalam kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam,terdapat satu kesamaan yang patut untuk diterapkan yaitu takwa dan kemudian taat untuk melaksanakan perintah Allah SWT,untuk berqurban mengikhlaskan materil duniawi dengan hanya mengharap ridho-Nya.Karena pada hakikatnya dunia ini adalah ujian bagi tiap insan manusia,dengan meningkatnya rasa ketakwan kepada Allah SWT,tentu akan membuat kita selalu merasa bersyukur atas segala kehendak-Nya.

            Dan yang ketiga,yaitu memaknai implikasi sosial dari hari raya Idul Adha bagi sesama,diantaranya adalah memberdayakan peternak lokal,gotong rotoyong dalam memotong hewan qurban,dan pembagian daging qurban yang telah dipotong kepada masyarakat,setidaknya tiga hal tersebut memuat nilai sosial kemanusiaan yang tinggi,diantarnya adalah membantu  peternak,kekompakan masyarakat,dan berbagi antar sesama.

            Dari ketiga poin tersebut maka tentulah kita bisa memaknai hikmahnya, yaitu ujian adalah fitrah termasuk pandemi ini yang tidak lepas dari ketetapan-Nya,sikap takwa yang tetap ikhlas dengan apapun yang terjadi dengan hanya mengharap ridho-Nya,dan yang terakhir adalah nilai sosial kemanusiaan dalam syariat qurban,yaitu kita tetap bisa menemukan kebahagian meski dalam ujian,yaitu dengan membantu sesama,dalam meringakan beban dengan niat ikhlas sebagai bentuk ibadah karena Allah.Terakhir dari penulis yakni semoga kita bisa mengadopsi nilai-nilai dari hari raya Idul Adha ini,walaupun dalam kondisi yang serba terbatas ,dan jangan lupa untuk tetap langitkan doa-doa kita kepada Allah sebagai pemilik segalanya,agar segera mengangkat pandemi  dari muka bumi ini,dan kita bisa kembali beraktivitas seperti semula dengan rasa takwa dan syukur.