KARAKTER SEPERADIK

Apa kabar Pancasila ? Apa kabar generasi muda Indonesia ? Kenapa penulis ajukan dua pertanyaan di atas ? Jawabannya sederhana dan singkat, keduanya adalah masa depan bangsa. Pancasila berisi nilai-nilai luhur bangsa yang harus menjadi tuntutan bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan kedepan yang makin kompleks. Persoalan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri bangsa ini, bahkan disekitar lingkungan kita. Coba amati bagaimana perilaku sebagian generasi muda kita saat ini yang mulai cenderung rapuh dan minim karakter.

Bukti nyata yang menunjukkan kondisi tersebut antara lain terlihat dari beberapa perilaku sebagai berikut: Pertama, kebiasaan mencontek anak didik kita yang akan membentuk karakter tidak jujur dan memilih jalan singkat yang keliru untuk mencapai sebuah tujuan. Kedua, maraknya geng-geng motor yang anarkis dan aksi tawuran antar pelajar, antar mahasiswa bahkan antar kelompok pemuda masyarakat. Fenomena ini menunjukkan pendekatan kekerasan dan anarkis telah menjadi prioritas dalam penyelesaian masalah yang terkadang sepele. Akibatnya pun tidak hanya memunculkan konflik sosial dimana-mana bahkan dendam berkelanjutan, tetapi juga kerugian materil dan sampai jatuhnya korban jiwa meninggal dunia. 

Ketiga, pergaulan bebas yang sudah menjadi bagian dari lifestyle generasi muda. Yang tidak ikut gaya hidup ini dicap tidak modern dan tidak gaul. Ini menujukkan lemahnya pemahaman agama, moral dan secara sosial terjadi penurunan kualitas kontrol sosial dan pandangan publik terhadap batasan-batasan kesusilaan yang telah bergeser. Akibat pergaulan bebas menyebabkan anak didik harus putus sekolah karena hamil atau harus menikah dini, praktek aborsi meningkat, kasus bayi dibuang karena tidak diinginkan, HIV/AIDS, dll.

Keempat, rapuh. Karakter negatif yang satu ini awalnya penulis cukup bingung memilih kata yang tepat. Namun sebagai contoh terhadap hal ini adalah kisah nyata dimana ada anak SD dinegeri ini yang naik ke tower untuk bunuh diri hanya karena cintanya ditolak. Bagaimana pendapat pembaca tentang kisah ini? Cinta monyet membuat si bocah ini begitu rapuh, lemah dan mudah menyerah. Padahal jalan hidupnya masih panjang dan butuh perjuangan pantang menyerah yang luar biasa dan bukan rela berkorban nyawa hanya karena putus cinta.

Kelima, minuman keras dan narkoba kini telah banyak meracuni pemuda pemudi kita. Keduanya menjadi “pelarian” dan juga gaya hidup kekinian. Kebiasaan kumpul-kumpul dan kongko kongko lalu mabuk-mabukan dan mengkonsumsi narkoba harus dihindari dan dijauhkan melalui kontrol keluarga dan sosial, serta mengalihkannya pada kegiatan-kegiatan positif, kreatif dan inovatif.

Kelima fenomena yang terjadi didepan mata kita ini mungkin sebagian saja persoalan yang kita hadapi. Kementerian Pemuda dan Olahraga mengidentifikasikan 10 masalah generasi muda saat ini, yaitu budaya kekerasan, tidak jujur, tidak menghormati orang tua, guru dan pemimpin, rasa kebencian dan saling curiga, penggunaan Bahasa Indonesia memburuk, perilaku menyimpang (narkoba, freesex), lemahnya idealism dan nasionalisme, pragmatis & hedonis, kaburnya pedoman moral dan acuh terhadap ajaran agama.
 

Karakter Pancasila

Berbagai persoalan di atas menunjukkan lemahnya karakter generasi muda dan ini harus menjadi persoalan bersama. Sebenarnya Pancasila dengan sila-silanya yang mengandung nilai-nilai sekaligus menunjukkan karakter bangsa, termasuk pula generasi muda. Apakah persoalan-persoalan di atas menunjukkan Pancasila telah dilupakan ? Silahkan pembaca menjawabnya.

Karakter-karakter yang terkandung dalam Pancasila dalam setiap silanya menurut penulis dapat dituangkan secara konkrit dalam perilaku-perilaku positif sebagai berikut: Sila Pertama, menjalankan ibadah dan ajaran agama, bergaul tidak membedakan agama, etnis dan suku, serta sikap toleransi. Sila Kedua, tidakmencontek, disiplin waktu, anti tawuran dan narkoba, serta mau bekerjasama. Sila Ketiga, mengutamakan kepentingan bersama, menghargai perbedaan, belajar sejarah dan berbahasa Indonesia yang baik. Sila Keempat, penyelesaian masalah melalui musyawarah, utamakan mufakat, pemilihan ketua kelas, Osis, Senan, BEM secara demokratis. Sila Kelima, membantu teman yang kesusahan, melaksanakan kerja bakti/bakti sosial, menjaga kebersihan sekolah/kampus dan lingkungan rumah, serta tidak konsumtif dan bergaya hidup mewah. Berbagai perilaku yang mengandung karakter Pancasila tersebut apabila mulai dijalankan kiranya dapat menjadi benteng terhadap berbagai persoalan yang diungkapkan di atas. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
 

Karakter SEPERADIK

Berdasarkan karakter-karakter Pancasila di atas, dalam rangka memudahkan internalisasinya perlu dilakukan banyak pendekatan. Salahsatunya dengan menyederhanakannya agar mudah dipahami dan merumuskannya dalam sebuah kata yang dekat dengan nilai-nilai lokal agar mudah diimplementasikan karena memang sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Terhadap karakter Pancasila bagi generasi muda di Bangka Belitung misalnya, penulis mencoba merumuskan dalam kata “SEPERADIk” yang lekat dalam kehidupan sehari-hari dan juga memiliki makna persaudaraan. SEPERADIK ini mengandung karakter sila-sila Pancasila dengan gabungan kata “SEmangat, PEduli, RAmah, DIsiplin dan Kompak. Kelima karakter ini merupakan representatif dari kelima sila Pancasila dengan harapan dapat membawa generasi muda kita menuju Generasi Emas. Semoga…

Education - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.